30.6.11

Menghapus Aku

Sejak masa remaja culun, aku kenal kamu. Teman sekelasku yang suka pada teman sebangkuku. Setiap hari kamu meneleponku hanya untuk cerita tentang perasaanmu pada seorang perempuan imut yang duduk di sampingku. Masih ingatkah kamu? Segala bujuk rayumu kau kerahkan untuk mendapat sedikit cerita mengenai si perempuan imut, hingga berbatang-batang cokelat kau beri padaku sebagai bentuk sogokan untukku.

Kehilangan kontak selama beberapa tahun tidak pernah membuatku lupa kamu, kawan. Rencana reuni niatku pertama ingin jumpa lagi denganmu. Aku ingin mendapat giliranku untuk bercerita tentang aku dan kamu mendapat giliran untuk mendengarkan aku. Kamu selalu tersenyum mendengarku, bahkan ketika aku mengeluh tak karuan. Kamu diam tidak pernah menyalahkan aku atas kasus patah hatiku. Hanya kamu yang seperti itu. Hingga aku kuat untuk berdiri lagi di atas kakiku sendiri. Doamu selalu mengiringi di setiap akhir curahan hati dan pikiranku. Itu membuatku tenang.

Tetiba aku mendengar kabar kau terbaring di rumah sakit. Kamu sering mengalami mimisan tanpa henti hingga pingsan. Sakit apa kamu? Aku ingat saat-saat itu kau tetap saja menanyakan kabar hatiku tanpa peduli kondisimu.

Ketika aku masih saja bekerja keras mengumpulkan semua pecahan kecil hatiku dan menatanya kembali, kamu bertemu dengan cintamu. Bagi sebagian besar orang, cintamu itu terlarang. Tapi aku tidak memandangnya begitu. Seperti waktu itu kamu memandang aku yang tidak bersalah. Aku mendengarkan semua alasan-alasanmu dan tidak sekali pun aku membuat fatwa haram. Kamu tahu itu.

Tapi entah, kenyataan atau hanya perasaanku saja. Kamu berubah. Aku tidak bisa mengungkapkan apa yang berubah. Tapi kamu berbeda. Hingga semua pesanmu rasanya aneh untukku. Tanpa aku mengerti dan sempat mendengar alasannya kau meminta aku menjauh. Pergi dari otakmu, pergi dari hatimu, pergi dari jejaring sosialmu, pergi dari hidupmu. Kenapa kamu tidak sekalian memintaku untuk pergi dari dunia ini saja, kawan?!

Setahun sudah. Aku bertanya-tanya 'mengapa' setiap kali teringat sosokmu. Apakah aku menyakitimu? Maaf, mungkin aku tidak sengaja. Apakah kamu jadi membenci aku? Maaf, tapi kenapa?

Kehilangan kamu dalam hidupku itu menyakitkan. Aku masih bisa merasakan air mata yang dulu tumpah hingga sekarang. Kini, kamu hanya menjadi sekedar masa laluku. Aku harus menerimanya. Karena kamu pun menerimaku hilang dari setiap inci hidupmu.

# Tulisan ini aku buat untuk seorang kawan yang dengan sengaja menghapus aku... EY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar